Keuchik di Abdya Diduga Palsukan Kematian Warganya

Akta Kematian - Ilustrasi

DILIPUTNEWS.CO - Seorang oknum keucik disalah satu gampong Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) diduga palsukan surat keterangan meninggal dunia salah seorang warganya.

Surat bernomor : 33/**/SKMD/X/2018, ditanda tangani oleh oknum kechik berinisial AN, berisikan tentang kematian salah seorang warganya berinisial DK (37), jenis kelamin laki-laki, pekerjaan wiraswasta, yang telah meninggal dunia sejak tahun 2014 lalu.

Padahal, pria yang dikabarkan telah meninggal tersebut, nyatanya masih hidup dan dapat menghirup udara segar, makan, minum, hidup dengan normal layaknya masyarakat pada umumnya.

AN menyampaikan, dirinya tidak terlalu mengingat kepastian terkait pembubuhan tanda tangan yang ditanda tangani olehnya disurat tersebut.

"Benar, itu memang tanda tangan dan atas nama saya, tapi saya tidak ingat persis kapan surat itu saya tandatangani," ungkap AN.

AN juga mengatakan, dirinya dan DK beserta keluarga juga sudah mendatangi Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Abdya.

"Kami sudah pernah datang ke kantor Disdukcapil untuk memberikan keterangan dan penjelasan terkait perihal Akta Kematian saudara DK," ujarnya.

Selanjutnya, lelaki berinisial DK yang dicantumkan namanya disurat tersebut menyatakan, pernyataan yang dibuat di surat keterangan itu merupakan kekeliruan disaat hendak mengurus akta kematian orang tua kandung dari anak angkatnya.

"Surat itu keliru dibuat, tujuan pembuatan surat itu untuk pengurusan akta kematian ayah kandung dari anak angkat saya, agar bisa di urus dana santunan anak yatim, lantas yang dicantumkan tersebut nama saya, bukan nama ayah kandungnya, kebetulan nama ayah kandungnya hampir sama dengan nama saya," ujarnya.

DK juga menambahkan, terkait santunan kematian yang menurut informasi telah diterimanya itu tidak benar, bahkan dia mengaku pernah mendapatkan sejumlah dana untuk anak yatim juga ditolaknya ke pihak sekolah tempat anak angkatnya itu meniti ilmu pendidikan.

"Saya dan kekuarga tidak pernah menerima santunan kematian seperti apa yang dituduh terhadap kami, kami tidak menerima dan tidak mengambil dana apapun, terkait permasalahan ini saya tidak menyalahkan dan tidak menuntuk pihak manapun," jelas DK.

DK juga berharap kepada instansi terkait agar data pribadinya untuk segera diaktifkan kembali, karena menurutnya identitas pribadi sangat diperlukannya sewaktu-waktu dikemudian hari.

"Saya juga berharap agar identitas saya untuk segera diaktifkan kembali oleh instansi terkait," harap DK.

Dihubungi terpisah, salah seorang warga gampong itu yang tidak ingin namanya disebutkan kepada awak media mengatakan, informasi tersebut didapatkannya dari salah satu warga lain yang kebetulan ada keperluan di kantor Disdukcapil.

Lalu petugas Disdukcapil menyampaikan bahwa ada akta kematian yang belum diambil oleh ahli warisnya yang berasal dari gampong tersebut.

"Informasi itu saya dengar dari salah seorang warga, dia mendapatkan kabar dari petugas kantor Disdukcapil waktu dia mau mengurus KTP," kata AN.

Ia juga berharap agar pihak penegak hukum dapat memproses perihal perkara ini, agar isu yang beredar tersebut dapat dipahami dan dimengerti oleh masyarakat.

"Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi, semoga menjadi pembelajaran untuk kita semua agar lebih jeli dan teliti dalam mengurus dan menginput data disaat hendak mengurus keperluan administrasi apapun," tutupnya.***

error: