Di Aceh Barat Mahasiswa dan Siswa Naik Bukit Untuk Belajar Daring

Para mahasiswa dan pelajar yang naik bukit untuk menadapat sinya selular - DiliputNews.co

DILIPUTNEWS.CO - Para pelajar dan mahasiswa di enam desa Kecamatan Pante Cermen, Kabupaten Aceh Barat, harus berjuang keras untuk bisa belajar secara daring di tengah pandemi covid-19, untuk mendapat sinyal internet, mereka terpaksa naik ke bungkit di tengah hutan agar bisa mengingkuti mata pelajaran secara daring.

Setidaknya ada 15 desa di kecamatan tersebut, tercatat sulit terakses jaringan selular. Para siswa dan mahasiswa di daerah itu ada yang mengadu ke desa tetangga untuk memperoleh sinyal mengikuti kelas online.

Camat Pante Cereumen, Teuku Juanda mengatakan, jika dibandingkan dengan jumlah anak yang masih bersekolah dan belajar di perguruan tinggi. Tentu saja tak adanya jaringan selular ini menjadi kendala besar bagi mereka untuk mengikuti kelas secara daring.

“Benar, jaringan internet telkomsel gk dapat, kalau anak sekolah lumayan banyak, jadi kalau anak sekolah terpaksa daring ke desa lain, naik ke gunung, ke desa tetangga yang ada sinyalnya. Ini menyebabkan putus komunikasi, paket data pun tidak dapat berfungsi dengan baik, ini sangat menganggu,” kata Teuku Juanda, Kamis (27/8/2020).

Adapun desa yang tidak dapat diakses sinyal selular sama seklai di Kecamatan Pante Cereumen yakni, Desa Keutambang, Lawet, Canggai, Jambak dan Desa Sikundo. Sementara desa yang jaringanya hilang timbul meliputi Desa Lango, Seumara, Menuang Kinco, Babah Iseung, Alue Keumang, Babah Lueng, Keude Siak Awe, Lhok Guci, Sawang Rambot dan DesaSuak Awe

“Ada satu desa yang lumayan bagus jaringannya yaitu Desa Ketambang, ada mahasiswa dari desa lain yang ke sana untuk belajar daring. Harapan kalau bisa dipasang tower lagi, supaya jaringannya tidak terganggu lagi,” imbuhnya.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh Barat, Husaini mengatakan, sebenarnya sistem pembelajaran di beberapa kecamatan sudah mulai tatap muka kembali, kecuali bagi siswa yang bersekolah di pusat kota, seperti di Kecamatan Johan Pahlawanyang sudah didaringkan kembali selama 14 hari.

Husaini mengakui, bahwa belajar secara daring bagi para peserta didik sangat tidak efektif.

“Untuk SMA itu ranah Provinsi, untuk smp ranah kita, karena kalau belajar daring ini kurang efektif, karena ada daerah jaringan memang tidak ada, kalau solusi sedang kita cari. Untuk SMP semua sudah tatap muka sekarang, kecuali mereka yang bersekolah di pusat kota di Kecamatan Johan Pahlawan, yang memang sudah didaringkan kembali,” jelasnya.

Pihaknya dan pemerintah setempat kini sedang membahas solusi agar para siswa di pelosok juga bisa menikmati layanan internet agar tidak menghambat proses pendidikan.***

error: