Jembatan itu Bernama Sawang Teube – Alue Peudeng

Bupati Aceh Barat, Ramli MS meletakkan batu pertama di pembangunan jembatan rangka baja Sawang Teube Alue Peudeng - DIliputnews.co

DILIPUTNEWS.CO - Jalan baru di ruas perkebunan warga Desa Sawang Teube tampak baru saja ditaburi kerikil, meski belum teraspal, jalur menuju ke tepi sungai itu cukup nyaman saat dilintasi. Kamis 11 Juni 2020, pukul sembilan pagi satu persatu warga dari berbagai desa mulai berdatangan untuk menyaksikan peletakan batu pertama pembangunan jembatan pengganti.

Disisi kanan berjarak 100 meter dari tepi daerah aliran sungai Krueng Mereubo telah tersusun rapi seratus lebih kursi plastik secara berjarak dan beberapa meja bundar dibawah tratak dengan tenda berwarna kuning.

Warga yang hadir diwajibkan mencuci tangan dan memakai masker, penerapan protokol kesehatan tak disepelekan, meski di daerah itu tak ada yang positif terjangkit Covid-19. Disisi kiri kanan pinggir jalan sudah terparkir banyak kendaraan roda dua milik warga dan mobil dinas para pejabat dilingkup pemerintah Kabupaten Aceh Barat.

Sinar matahari tak begitu panas, pukul sepuluh menjelang siang suara perempuan berbaju hitam mulai terdengar sebagai penanda kegiatan peletakan batu pertama pembangunan jembatan penghubung antar kecamatan dimulai, ia adalah pembawa acara.

Jembatan rangka baja pengganti Ulee Raket ini diberi nama jembatan Sawang Teube – Alue Peudeng, yang berada Kecamatan Kaway XVI, dibangun hanya berjarak 300 meter dari lokasi semula jembatan yang ambruk diterjang banjir.

Ayat suci Al-quran dibacakan, raut wajah para tamu yang sudah hadir terlihat begitu khidmat mendengarkan, dilanjutkan laporan pelaksanaan dari Dinas PUPR, Kurdi, usai itu arahan dan sambutan Bupati Aceh Barat, Ramli MS.

Tak berjarak dari pentas, Udin (63) bersama warga lainnya duduk diatas rumput karena tak kebagian kursi. Mulutnya tertutup rapat mendengar pidato di sampaikan orang nomor satu di Aceh Barat itu.

Meski melihat dari samping, tatapannya cukup tajam kedepan. Sesekali ia menoleh ke material dan alat berat yang tak jauh dari lokasi ia duduk. Tangannya ikut bertempuk saat para hadirin melakukan hal serupa.

Hari itu, Udin mengenakan baju kemeja lengan panjang berwarna kuning dan peci coklat selaras dengan celananya, pria berkulit hitam itu tampak antusias dibawah terik matahari bersama seratusan warga lainnya hadir.

Dirinya kemudian berjalan mengikuti rombongan Bupati Aceh Barat H. Ramli MS berserta Forkopimda dan unsur lainnya menuju lokasi peletakan batu pertama jembatan penghubung kecamatan Pante Ceuremen dan Kecamatan Kaway XVI menuju pusat kota Meulaboh.

Mimik gembira dengan senyum semingrah terpancar. Berjalan sekitar 100 meter terlihat dua buah alat berat yang sudah bersiap untuk memulai pembangunan sarana transportasi yang sudah lama dinanti masyarakat.

"Sudah lama kami menanti pemerintah untuk memperbaiki jembatan ini," ucap Udin haru.

Letak akses penghubung itu semula berada ditikungan sungai Desa Sawang Teube, Kecamatan Kaway XVI dan sering terhantam air. pukul 14.00 WIB, 31 Oktober 2019 jembatan yang dibangun pada 1996 tapi terhenti pada 1998 akibat konflik dan pada tahun 2000, pembangunannya dilanjutkan kembali serta diresmikan pada 2002, oleh almarhum Taufik Kiemas, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia saat itu, rubuh total dan tak bisa dilalui lagi, bahkan untuk pejalan kaki sekalipun.

Jembatan rangka baja sepanjang lebih kurang 300 meter itu patah dua, atbumen tengah ambruk dihantam air deras aliran Sungai Krueng Mereubo dan bergeser sehingga terpisah dari badan jembatan.

Ada 27 desa dari dua kecamatan berada di seberang jembatan dengan perkiraan jumlah penduduk mencapai 12.000 jiwa lebih. Kebanyakan dari mereka berkerja sebagai pekebun dan petani. Jembatan Sawang Teube itu menjadi akses utama mereka membawa hasil pertanian untuk dijual.

Karena telah runtuh, mereka harus menggunakan jalan alternatif dengan tambahan jarak tempuh mencapai satu jam atau setara 25 kilometer. Jika melalui titian itu hanya membutuhkan waktu 30 menit menuju pusat kecamatan dan 1 jam lebih kurang menuju pusat Kota Meulaboh.

"Jadi selama ini kami harus rela mengeluarkan biaya dua kali lipat pasalnya kami harus menempuh jalur alernatif lain yang lebih jauh yaitu jembatan palimbungan yang bisa menghabiskan waktu 30 menit perjalanan untuk bisa berdagang dan mengais rezeki ke desa sebelah," kata Udin lembut.

Masyarakat juga mengeluhkan karena berdampak pada segi pendidikan. Karena anak-anak dari seberang banyak yang bersekolah dan kuliah di daerah perkotaan.

”Kami banyak menaruh harapan pada jembatan Sawang Teube - Alue Peudeng ini semoga pemerintah bisa segera menyelesaikannya,” imbuhnya.

Harapan masyarakat Kecamatan Kaway XVI dan Pante Cereumen sempat pupus untuk memiliki jembatan baru, isu tak sedap beredar bahwa lokasi pembangunan jembatan akan dipindah ke desa lain, kabar tersebut lalu ditepis, hanya berpindah beberapa ratus meter saja dari lokasi semula.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Aceh Barat, Kurdi mengatakan, untuk pembangunan jembatan rangka baja sepanjang 120 meter dengan lebar badan 6 meter serta trotoar kiri kana masing masing 0,5 meter.

Tingginya dari permukaan tanah mencapai 5 meter, dari poor bawah jembatan setinggi 7,5 meter. Dari hasil survey banjir tertinggi yang melanda daerah sekita mencapai 2 meter, sehingga pembangunan jembatan tersebut cukup kuat bertahan meski dihantam air.

Pagu anggaran keseluruhan sebesar Rp 31,5 miliar dengan pembangunan tiga tahapan. Tahun ini tahap pertama dianggarkan dana sebesar 12 miliar untuk pembuatan dua abutmen ditambah pilar tengah disertai jalan dengan panjang 40 meter dan lebarnya 10 meter.

“Untuk tahap dua akan kita laksanakan tahun depan, dananya 15 miliar untuk pemasangan dan pengadaan rangka baja. Insya allah di tahun 2021 masyarakat sudah bisa melalui jembatan ini, tetapi akan kita fungsionalkan dengan lebih baik supaya jadi lenmar dimasa pimpinan bupati Ramli-Banta pada lanjutan tahap akhir dengan menambahkan anggaran 4,5 miliar,” jelas Kurdi.

Usai peletakan batu pertama oleh Bupati Aceh Barat dan unsur Forkopimda yang hadir, para tamu disajikan kuah belangong untuk dimakan bersama-sama, tak lama kemudian satu persatu orang yang datang mulai membubarkan diri.***

error: