Penjualan Sepeda Bekas Meningkat di Aceh Barat

Penjualan Sepeda Bekas Meningkat di Aceh Barat

DILIPUTNEWS.CO - Menjaga imunitas tubuh kini menjadi prioritas utama masyarakat di masa pandemi Covid-19, hal itu dilakukan untuk sebagai salah satu cara mencegah terserang wabah penyakit, salah satunya dengan cara berolahraga.

Seperti di Kabupaten Aceh Barat, penjual sepeda bekas kini kebanjiran orderan sepeda modifikasi, harga yang terjangkau membuat masyarakat mengincar sepeda bekas yang sudah diperbaharui dari pada yang baru.

Dengan adanya trand baru ini, tentu saja mengakibatkan kebutuhan akan sepeda juga bertambah, salah satu hal yang menjadi kendala bagi masyarakat dalam berolahraga sepeda yaitu mahalnya harga sebuh sepeda baru yang bahkan per unitnya bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Dengan mahalnya harga sebuah sepeda baru, membuat masyarakat beralih untuk membeli sepeda bekas, karena dibadrol dengan harga murah, sepeda bekas juga sangat diminati oleh sebagian masyarakat, karena tidak begitu menguras isi kantong serta kualitas yang juga sangat baik.

Seperti yang dirasakan oleh Ahmad dan Ani pasangan suami istri penjual sepeda bekas di Desa Gunong Kleng, Kecamatan Meurebo, Kabupaten Aceh Barat, Aceh. Mereka menjual berbagai jenis dan ukuran sepeda, mulai dari sepeda santai dan sepeda olahraga serta sepeda anak-anak hingga sepeda orang dewasa.

Ani mengatakan, sepeda-sepeda yang mereka jual merupakan sepeda bekas pakai yang sudah rusak kemudian diperbiki hingga bisa digunakan lagi seperti layaknya sepeda baru.

“Iya sebelumnya kita beli yang rongsokan gitu, ada yang udah gak ada bannya, ada yang enggak ada stangnya ya namanya sepeda yang udah rusak,” katanya, Kamis (23/7/2020).

Sebelumnya ia bersama suami berjualan sepeda bekas di kampung yang jauh dari pusat keramaian, sehingga sepeda-sepeda bekas yang mereka jual jarang laku karena tidak banyak orang yang tau.

“Alhamdulillah disini usaha sepeda bekas kami lumayan laku karena di pinggir jalan besar kan jadi orang lalu-lalang, bahkan kadang banyak juga orang yang dari medan yang kebetulan lewat disini kemudian beli sepeda,” kata Ani.

Sepeda-sepeda bekas tersebut mereka dapatkan dari warga sekitar yang ingin menjual sepeda bekas milik mereka karena sudah rusak dan tidak dapat digunakan lagi, tapi ditangan Ani dan suaminya sepeda bekas tersebut di modifikasi dan diperbaiki hingga bisa dipergunakan lagi.

“Biasanya kami beli dari warga itu dengan timbang kilo, per kilonya itu kami beli empat ribu, rata-rata per sepeda itu beratnya ada yang 15 kilo terus ada yang 17 kilo tergantung ukuran besar atau kecilnya,” ujarnya.

Harga sepeda bekas yang sudah diperbaiki kemudian mereka jual dengan harga yang bervariasi, mulai dari 100 ribu hingga 700 ribu rupiah tergantung dari janis sepeda dan besar kecilnya ukuran sepeda.

“Alhamdulilah selama pandemi ini lumayan banyak sepeda yang laku, yang paling banyak laku itu sepeda jenis BMX gitu,” jelanya.

Ahmad sendiri yang bertugas sebagai mekanik untuk memperbaiki sepeda rusak yang mereka beli dari warga mengatakan, bahwa untuk proses perbaikan satu unit sepeda menghabiskan waktu sekitar satu hari untuk proses perbaikan dan pengecetan ulang hingga bisa digunakan lagi.

“karena kami disini yang kerja ada tiga orang, jadi setiap hari itu bisa selesai tiga atau empat sepeda,” katanya.

Selain menjual sepeda bekas, mereka juga menjual berbagai spare part sepeda bekas mulai dari batangan sepeda, pelek sepeda dan yang lainnya dengan harga yang lebih murah dari harga pada pada umumnya yang dijual di toko-toko sepeda.

“Jualan sepeda bekas ini inisiatif sendiri, karena dari pada di tumpuk dirumah kan jadi kita coba perbaiki dan kita pajang disini dan alhamdulilah peminatnya ada,” jelasnya.

Ahmad menambahkan, untuk bisa memperbaiki sepeda yang sudah rusak dan tidak dapat digunakan lagi harus memiliki skil yang cukup memadai karena setiap sepeda memiiki tingkat kesulitan yang bebeda-beda.***

error: