Proyek IPAL Swakelola di Rumah Apung Timbulkan Bau Tak Sedap

Pembangunan IPAL di rumah apung perkampungan nelayan Kabupaten Aceh Barat - DIliputnews.co

DILIPUTNEWS.CO - Nelayan yang tinggal di "Rumah Apung" Desa Kuala Bubon, Kecamatan Samatiga Kabupaten Aceh Barat sudah tidak tahan mencium aroma tidak sedap akibat tidak berfungsi saluran Instalasi Pengelohan Air Limbah (IPAL).

"Baunya tidak bisa kita bilang bagaimana, yang pasti kami tidak tahan mencium bau busuk ini keluar dari saluran IPAL. Ini karena tidak berfungsi saat digunakan," kata M Ikbal (47) salah seorang nelayan,Jumat (4/6/2020).

Pemerintah Kabupaten Aceh Barat melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) membangun IPAL dengan kegiatan pembangunan sistem pengeloaan air limbah, Dana Alokasi Khusus (DAK) reguler senilai Rp440 juta.

Pembangunan IPAN komunal di Desa Kuala Bubon tersebut dilakukan secara swakelola dan tuntas dikerjakan pada akhir 2019, baru beberapa bulan digunakan warga tetapi sudah tidak berfungsi sehingga mengeluarkan bau busuk.

"Sebelum dibangun IPAL baru ini kami biasa-biasa saja dengan septic tank rumah dibangun NGO. Setelah dibuat yang baru justru membuat udara tidak sehat, pipanya ada yang patah, ada juga yang tidak dipasang," keluhnya lagi.

Sementara itu Tuha Peut atau perangkat Desa Kuala Bubon, Saiful (50) menyampaikan, bahwa proyek yang dikerjakan secara swadaya tersebut menyasar kepada 50 unit rumah, dari total 118 unit rumah apung ditempati nelayan itu.

"Dari 50 unit yang disambungkan IPAL ini, ada 30 unit rumah yang bermasalah dan warga melaporkan kepada kita untuk bisa diatasi. Warga berharap kontruksi IPAL ini diperbaiki, warga sudah tidak tahan mencium bau setiap saat," tegasnya.

Menurut Saiful, penyebab tidak berfungsinya saluran IPAL tersebut karena terlalu jauh penempatan kolam limbah, kemudian jalur penggunaaanya terlalu banyak, ditambah lagi pipa saluran yang dibuat tidak memiliki kemiringan yang sesuai.

Rumah Apung ini merupakan permukiman bersejarah bagi Kabupaten Aceh Barat, karena pernah juga dikunjungi oleh Presiden RI Joko Widodo pada 2015, semua warga yang tinggal di rumah tersebut berprofesi sebagai nelayan perikanan tangkap.***

error: