Kapal Asing Pengangkut Tiang Pancang

YARA Sesalkan Kondisi Kapal Asing Yang Terancam Kelaparan

Ketua Yara Aceh Barat, Hamdani.

DILIPUTNEWS.CO - Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Kabupaten Aceh Barat, menyesalkan kondisi awak kapal asing yakni Mother Vassel New Lucky II yang kehabisan stok makanan dan terancam kelaparan di perairan laut Aceh Barat, sehingga manajemen kapal terpaksa menyurati Kedutaan besar Republik Rakyat China (RRC) di Indonesia.

Ketua YARA Aceh Barat, Hamdani, mendesak Kantor Pengawasan Dan Pelayanan Bea Dan Cukai Tipe Madya Pabean C Meulaboh untuk bisa memberikan izin kepada agen pelayaran atau otoritas lainnya yang bertanggung jawab untuk mengantarakan makanan pada kapal asing itu.

“Wajar saja ada rasa kwatir karena saat ini dalam kondisi Covid 19 (Coronavirus Disease 2019) ada rasa ketakutan. Tapi jangan pula karena rasa takut itu otoritas berwenang lalu menghalang-halangi aktivitas kapal tersebut, hingga delapan belas ABK kapal itu kini terancam kelaparan karena kehabisan pasokan makanan,” kata ketua YARA Aceh Barat, Hamdani, melalui rilisnya.

Hamdani menilai, kondisi awak kapal MV New Lucky II yang terancam kelaparan tersebut tidak dapat dibiarkan, karena secara kemanusian mereka memiliki hak untuk hidup dan diperlakukan secara sama tanpa perbedaan.

Harusnya, kata dia, dipelajari dari rentang waktu keberadaan kapal MV New Lucky II di perairan laut Aceh mulai dari Calang Aceh Jaya, yang tiba 30 maret lalu, hingga berpindah ke Aceh Barat 19 April lalu telah melewati fase dari adanya rasa khawatir semua pihak terhadap paparan Covid 19.

Sebab, jika dilihat dari masa itu berdasarkan protokol yang ditetapkan World Healt Organizing (WHO) maupun Pemerintah Indonesia maka fase inkubasi Covid 19 telah berakhir apalagi mereka telah menjalani karantina di laut selama hampir satu bulan dan tidak ada kejadian apa-apa.

Ia berharap jangan sampai karena ke kwatiran yang berlebihan, malah berimbas ke Pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM), lantaran telah membiarkan mereka kelaparan yang bisa berujung pada kematian.

“Ini harus menjadi perhatian pemerintah Kabupaten Aceh Barat, DPRK dan Bea Cukai. Mungkin tidak masalah jika kapal mereka tidak dibenarkan dulu dibongkar, tapi jaminan pasokan makanan mereka harus di jamin, jangan sampai melanggar HAM,” ucap Hamdani.

Hamdani, berharap terlepas dari kepentingan apapun dengan kondisi saat ini, pasokan makanan bagi awak kapal MV New Lucky II harus segera ditangani.

“Saya rasa apapun kondisinya kesampingkan dulu terhadap kepentingan apapun, dan kepada KPPBC TMP C Meulaboh untuk memberikan izin mengantarkan makanan kepada mereka, sehingga mereka bisa bertahan hidup ditengah laut hingga adanya kepastian pembongkaran material PLTU 3 dan 4 itu,” ungkapnya.

Jangan sampai karena administrasi yang berbelit-belit, kata dia, berujung pada pelanggaran HAM sehingga perhatian dunia tertuju kepada Aceh kedepannya.

Ia juga meminta kepada rekanan pelaksanan, terkait dengan pengadaan tiang pancang yang melakukan pembongkaran di dermaga dapat mematuhi aturan yang berlaku, serta protokol pemerintah dalam penangan Covd 19.***

error: