Produsen Ikan Asin di Aceh Barat Melesu

Pekerja menata ikan asin yang sudah dibersihkan di atas ancak sebelum dijemur - Diliputnews.co

DILIPUTNEWS.CO - Produsen ikan asin di Kabupaten Aceh Barat semakin melesu dalam produksi, pandemi corona virus yang tak kunjung berakhir membuat daya beli masyarakat semakin melemah sehingga berdampak pada pembuatan ikan asin olahan itu. Bahkan, para pembuat ikan asin mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah.

Meski saat ini, harga bahan baku pembuatan ikan asin turun drastis, para perajin tak berani mengambil resiko besar karena tak memiliki gudang penyimpanan yang memadai.

Ridwan, salah seorang pembuat ikan asin di Desa Ujong Kalak, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, mengatakan, dalam sehari produksi di tempat pembuatan miliknya bisa mencapai ratusan kilogram, sejak masa pandemi Covid-19 hingga sekarang, produksi per hari tak sampai 100 Kilogram per hari.

“Di masa pandemi covid-19 ini sangat jauh berbeda dari sebelumnya, kemarin kita bisa produksi ratusan kilogram, kalau sekarang maksimal produksi yang berani hanya berkisar 100 Kilogram saja,” kata Ridwan, (10/6/2020).

Ia mengatakan, pengaruh yang disebabkan pandemi Covid-19 ialah daya beli masyarakt yang menurun drasti, hasil produksi yang sudah jadi terus menumpuk digudang penyimpanan tradisional dan terus membusuk.

Ridwan mengaku, dirinya juga mengalami kerugian hingga 60 juta rupiah, sebab hasil olahan ikan asin miliknya tidak tahu harus dibawa dan dipasarkan kemana, sementara para penampung mengurangi pasokan karena daya beli yang melesu tadi.

“Rugilah, 60 juta saya rugi karena ikan hasil olahan membusuk, kita kirimkan ke luar Provinsi Aceh pun tidak ada yang mau, karena memang daya beli kurang, kecuali kita memiliki alat penyimpanan yang memadai, baru kita berani produksi seperti biasa,” ujarnya.

Ridwan berharap, pemerintah bisa menyediakan gudang penyimpanan dengan dilengkapi peralatan modern yang bisa membuat ikan tidak busuk, kondisi saat ini membuat para perajin ikan asin tidak berani mengambil resiko besar dalam produksi.***

error: