Meriam dan Puing Rumah Ule Balang Masa Kesultanan di Aceh Barat Terabaikan

Meriam peninggalan masa kejayaan Sultan Iskandar Muda di Aceh Barat - Diliputnews.co

DILIPUTNEWS.CO – Sebanyak tiga buah meriam peninggalan masa Kesultanan Aceh di Desa Arongan, Kecamatan Arongan Lambalek, Kabupaten Aceh Barat tidak terawat baik, padahal bukti sejarah kejayaan Aceh tersebut masih terlihat utuh.

Kondisi meriam bubuk mesiu itu luarannya masih terlihat bagus, karena tak diperhatikan dengan baik jadi tampak kusam warnanya, di dalam lubang proyektil alutsista masa kerajaan sudah tersumbat kotoran dan karatan.

Satu buah meriam beratnya diperkirakan mencapai bobot 800 Kilogram, disana juga terdapat puing bangunan rumah khas Aceh yang dulunya dihuni oleh Ulee Balang Woyla Baroh, yang tersisa hanyal pondasi yang penuh lukisan corak bunga yang kini diselimuti semak belukar.

Keturunan ke 16 Ule Balang atau Raja Kecil masa Kesultanan Aceh di wilayah tersebut yang juga keluarga pewaris, Abu Said Hitam (83) mengatakan, meriam tersebut dulunya digunakan sebagai pertahanan di tempat tinggal para raja.

“Meriam ini sejarahnya dari masa Sultan Iskandar Muda digunakan sebagai pertahanan pada masa itu, se tahu saya meriam ini sudah ada sejak tahun 26 Masehi, itupun menurut cerita dari nenek kami,” kata Said Hitam.

Berdasarkan cerita turun-temurun, dulu ada lima buah meriam, duanya menghilang disapu gelombang tsunami 2004 lalu, sisanya yang semula ditempatkan terpisah kemudian disatukan karena takut akan dicuri.

Ia mengatakan, Bunga-bunga yang terukir di pondasi itu merupakan hiasan permainan raja, karena zaman dulu tidak ada taman bunga di depan rumah, berbeda dengan sekarang sudah ada tanaman hias yang hidup di dalam pot.

“Atap dari rumah itu berbentuk rumbia, dindinganya itu terbuat dari papan yang tebalnya mencapai 20 centimeter, bukan papan belah geregaji seperti sekarang, dulu dikenal dengan istilah papan salib,” ujarnya.

Di Wilayah tersebut, dulunya ada tiga Ule Balang, pertama wilayah Woyla Baroh, yang kedua Woyla di kualabhe dan Woyla di Bubon.

Peristiwa Tsunami 2004, banyak pusaka yang disimpan dirinya, mulai dari meja perak, cawan emas hingga peralatan tempur prajurit sultan, kini hilang terseret laut dan tak diketahui lagi dimana keberadaannya.

Dijelaskannya, masa konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah RI, pihak Negara Brunei Darussalam berniat untuk menjadikan kawasan itu sebagai monumen sejarah. Tak jadi dilanjutkan karena kisruh berkepanjangan yang belum menemukan titik terang,

“Ada datang orang dari negara Brunai Darusalam sudah dibawa alat-alatnya dengan menggunakan Helycopter, mereka datang untuk membangun lokasi ini untuk dijadikan tempat sejarah kerajaan Woyla Baro, akhirnya ditumpukkan besi itu tepat di depan rumah, karena tidak jadi dibuat maka satu persatu besi dan bahannya hilang,” ujar Abu.

Abu yang juga merupakan veteran kemerdekaan itu pernah menjabat sebagai ketua MAA Aceh Barat, tak dilakukannya pemeliharaan terhadap keberadaan meriam tersebut karena tak ada kucuran dana.

“Kalau untuk perhatian dari pemerintah sendiri memang tidak ada, Cuma beginilah, kalau ada moment-moment tertentu kumpul semua keluarga atau ada yang datang untuk melihat situs sejarah ini baru kita datang ke lokasi, selama ini sering juga orang datang untuk melihat Meriam ini, ada dari mahasiswa, dari Banda Aceh, dari Malaysia,” jelasnya.

Abu berharap, pemerintah bisa menaruh perhatian khusus terhadap bukti sejarah yang sudah lama disana, sehingga meriam dan bekas bangunan rumah Ulee Balang tersebut bisa menjadi monument sejarah dan objek wisata di Aceh.***

error: